Info Market

Wednesday, July 9, 2008

Materi Teknologi bahan konstruksi X

d. Kerusakan dan cacat-cacat kayu
a. Mata Kayu
Kayu dikatakan kasar jika mengandung banyak mata kayu, dan kayu licin jika tidak ada mata kayu, mata kayu adalah faktor penting bagi pekerjaan bangunan rumah dan perkakas rumah tangga dari kayu, jika mata kayu kecil maka akan lepas dengan sendirinya dan lubang bekasnya dapat ditutup, tetapi jika mata kayu besar maka akan mengganggu penggunaannya jika menghadapi gaya tekan

b. Cacat retak-retak
Biasanya terdapat dekat hati bahkan sampai memanjang, hal ini diakibatkan pengeringan yang tidak teratur sehingga retak-retak terjadi karena tegangan-tegangan, Hal ini dapat dicegah dengan pengeringan yang lambat namun teratur.

c. Hati yang busuk
Cacat ini tidak bisa terlihat sebelum kayu ditebang, penyebabnya adalah kayu terkena penyakit lalu hati membusuk karena kemasukkan air, dapat pula karena lapuknya akar tunggang lalu air dan binatang pembusuk kayu masuk dan merusaknya
d. Cacat lapuk
Terjadi karena kesalahan dalam menumpuk kayu yang tidak menghindari kelembapan udara serta jamur, terutama kayu muda. Maka kayu harus disimpan di tempat yang kering dan berangin.
e. Kayu berdasarkan mutu dan kelasnya
Kekuatan kayu dihitung faktor-faktor penting ;
a. Sifat anistrop, berrati susut muai tidak sama ke semua arah maka daya tahan kayu terhadap suatu gaya yang arah gaya tersebut tergantung terhadap arah serat. Kekuatan tarik dan tekan pada arah aksial jauh lebih besar daripada arah radial
b. Kondisi bebas air (keadaan kering), kekuatan kayu akan menurun jika kadar air bertambah dan mencapai terendah pada waktu kadar air dari kayu mencapai titik jenuh serat
c. Sifat bobot isi, makin besar bobot isi suatu jenis kayu, menyebabkan daya tahan terhadap dari luar makin besar. Jadi bertambahnya kekerasan dan kekuatan tekan praktis sebanding dengan bertambahnya bobot isi. Sedangkan kekuatan lentur biasanya dipengaruhi sifat-sifat zat pembentuk
Daftar Kelas Susut
Kelas
Kuat
Berat jenis
Kekuatan lengkung absolut (kg/cm2)
Kekuatan tekan absolut (kg/cm2)
I
II
III
IV
V
> 90
0.90 – 0.60
0.60 – 0.40
0.40 – 0.30
< 0.30
> 1100
1100 – 725
725 – 500
500 – 360
< 360
> 650
650 – 425
425 – 300
300 – 215
< 215

d. Mutu kayu ;
· Mutu A:
- kayu harus kering udara
- besarnya mata kayu tidak melebihi 1/6 dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 3,5 cm
- balok tidak boleh mengandung manvlak yang lebih besar dari 1/20 tinggi balok
- miring arah serat tidak boleh lebih dari 1/10
- Retak-retak dalam arah radiasi tidak boleh lebih dari ¼ tebal kayu dan retak-retak menurut tumbuh tidak boleh melebihi 1/5 dari tebal kayu
· Mutu B
- kadar air kayu lebih kecil 30%
- besar amata kayu tidak melebihi ¼ lebar dan juga tidak boleh lebih dari 5 cm
- balok tidak boleh mengandung manvlak yang lebih besar dari 1/10 tinggi balok
- miring arah serat batang tidak boleh lebih dari 1/7
- Retak-retak dalam arah radial tidak boleh melebihi ¼ dari tebal kayu
f. Cara-cara pengawetan kayu
Sifat-sifat keawetan kayu
Pengawetan suatu jenis kayu untuk meningkatkan daya alamiah dari kayu tersebut terhadap serangan-serangan organisme, seperti cendawan dan jenis serangga. Keawetan ini disebut keawetan alamiah.
Tujuan dari pengawetan :
- kayu yang semula tidak awet mnejadi awet
- jenis kayu yang kurang awet dapat dijadikan sebagai pengganti kayu yang awet
- dapat menghemat biaya pembangunan
Sifat-sifat bahan pengawet :
- beracun terhadap cenadawan dan serangga, tetapi pemakaiannya tidak berbahaya bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan
- permanen, tidak luntur kena air, tidak menguap kena panas
- tidak bereaksi terhadap bahan
- mudah tembus terbakar dan cepat kering dan mudah dicatkan pada kayu
Pembagian keawetan kayu ditetapkan oleh LPHH (Lembaga Penelitian Hasil Hutan)
Kelas Awet
Penjelasan
I
Jika kayu yang dipakai selalu berhubungan dengan tanah basah, daya tahan kayu minimum 8 tahun. Terbuka terhadap angin dan iklim tetapi dilindungi terhadap permukaan air dan kelemasan tahannya paling sedikit 20 tahun, kayu tersebut jarang dimakan rayap
II
Selalu berhubungan dengan tanah lembap paling sedikit 3 tahun, terbuka terhadap pemasukan air dan kelembapan paling sedikit 15 tahun
III
Berhubungan dengan tanah lembap paling sedikit 3 tahun. Terbuka terhadap angin dan iklim tetapi dilindungi oleh pemasukan air dan kelemasan paling sedikit 10 tahun
IV
Selalu berhubungan dengan tanah lembap, kayu ini lekas lapuk, terbuka terhadap angin dan iklim tetapi dilindungi oleh permukaan air dan kelemasan hanya bertahan beberapa tahun saja, tetapi kalau dipelihara dengan baik sekurang-kurangnya 10 tahun
V
Kumpulan jenis-jenis kayu yang lekas sekali menjadi lapuk atau rusak karena serangan bubuk maupun rayap
Bahan-bahan pengawet
1. Bahan pengawet alam ;
a. air (termasuk air sungai)
b. udara (tidak lembap)
c. panas (sinar matahari, pengasapan)
2. Bahan pengawet buatan ;
a. berupa garam-garam, seperti garam, tembaga, fluorida, borium, wollman, chroom, arsin, seng, dsb
b. berupa minyak, creosoot, carbilineum
Cara-cara pengawetan
1. Membakar kayu, yang dibakat adalah kulit luarnya agar tidak dimakan rayap, ini untuk kayu yang ditanam dalam tanah
2. Ditutup dengan lapisan ter, sebelumnya kayu harus kering benar. Ini untuk tiang-tiang pagar atau rangka atap dari kayu muda
3. Dengan carbolineum, pengawet yang efektif untuk kayu berpori, sangat baik untuk kayu-kayu di dalam air (turap-turap)
4. Minyak creosoot, kayu yang diawetkan dimasukkan ke dalam ketel lalu masukkan uap air sehingga getahnya keluar, selanjutnya semua cairan dipompa keluar. Minyak creosoot yang telah dipanasi dimasukkan sampai suhunya 600C, selanjutnya dipres sampai tekanan 10 atmosfer

5. Proses Burnett hampir sama dengan proses meng-creosoot, hanya saja bahan yang dipakai ZnC12 yang berbusa dan tidak berwarna, perbandingan pemakaian adalah 1 : 40 /1 ; 60 bagian air. Kayu yang diawetkan dimasukkan ke dalam lori lalu maukkan ke dalam ketel dan ditutup rapat, tekanan dalam ketel dikurangi hingga ¼ atmosfer selama 1jam. Setelah zat air dalam kayu keluar, barulah zat atau cairan ZnC, dipompakan ke dalam ketel. Cairan ini mula-mula 6 jam, dengan cara ini kayu khusus yang berhubungan dengan udara luar.

6. Imfregnasi dengan konpervitrinool, sebuah tanki yang berisi campuran kompervitriool dan air diletakkan diatas tanah setinggi +0,5 m dan letaknya miring 600. Bahan pengawet dialirkan dari tangki I ke tangki 2 sampai jenuh dan meresap ke dalam kayu.

7. Proses kiyanisaasi, obat yang dipakai adalah HgC12 yaitu zat cair putih yang beracun, sangat berbisa dan tidak berwarna. Perbandingan campuran 1 : 150. Kayu dimasukkan ke dalam bak-bak beton yang besarny ditumpuk dan diberi bilah-bilah, dimasukkan supaya kayu tidak mengapung. Bak diisi cairan selama 5 – 14 hari. Setelah proses pengawetan di tumpuk pada tempat berangin.

8. proses wolmanisasi, yaitu menggunakan obat garam wolman yang terdiri dari :
25 % Natrium fluorida,
25 % Dinatrium hydrogen arsenat,
37.5 % Natrium kromat,
12.5 % Dinitro fenol.

Skema Ruang Pengeringan Kayu
2. Kayu Lapis
Adalah suatu papan/panel buatan yang terdiri dari susunan silih berganti dari beberapa lembaran vinir yang mempunyai arah serat berlainan tegak lurus, diikat dengan perekat tertentu.

Three Ply
Five Ply
Lamin Board
Block Board
Multi Ply

Batten Board
a. Jenis-jenis kayu lapis dan fungsinya
· Papan partikel (particle board), adalah papan tiruan yang dibuat dari partikel (serpih) kayu atau bahan selulosa lainnya yang diikat dengan perekat organik dengan atau tanpa bahan pembantu lainnya melalui proses tekan dan panas. Jenis ini digunakan sebagai bahan pembantu lainnya mealui proses tekan dan panas. Jenis ini digunakan sebagai interior dan eksterior bangunan.
· Papan serat (fibre board) adalah papan tiruan yang dibuat dari serat kayu atau bahan lignos selulosa lainnya yang pengikatnnya terjadi karena proses fisis (phisical bond). Selama proses pembuatan dapat ditambahkan bahan penolong (additive) untuk mendapatkan sifat yang dikehendaki. Digunakan bahan yang berhubungan dngan air
· Papan wool kayu (wood wool board) adalah papan buatan yang terbuat dari campuran wol kayu dan bahan pengikat hidrolis dengan atau tanpa bahan pembantu lainnya. Digunakan untuk bangunan yang memerlukan akustik dan konstruksi yang tidak memikul beban (non-struktural)
· Papan kayu semen adalah papan buatan yang terbuat dari campuran serpih kayu dan semen portland dengan atau tanpa bahan pembantu lainnya. Digunakan untuk bangunan yang tidak menahan beban yaitu langit-langit dan dinding
· Ubin Parket (parquet), adalah ubin yang dibuat dari lempeng tipis kayu jenis berdaun lebar (hardwood) yang telah dikeringkan dalam tungku pengering, Digunakan sebagai ubin penutup lantai
· Vinir Kayu Jati. Adalah lembaran tipis kayu jati yang diperoleh dengan cara irisan (slicing). Digunakan untuk dindig dan daun pintu.

b. Cara pengolahan kayu lapis
Pembuatan finner secara mengupas ini dapat memperoleh finner yang halus dan lebar, hingga tidak banyak kayu yang dibuang. Sebuah pisau yang berat dan lebar ditekankan pada batang yang berputar pada sumbunya. Bersamaan dengan berputarnya kayu, pisau mengupas digerakkan beraturan ke arah pusat (hati kayu) bungkah kayu. Pisau panekan A berguna untuk mencegah sobeknya finner saja. Karena kecepatan mesin seolah-olah finner merupakan seperti kertas saja. Mesin ini menghasilkan finner yang tebalnya 2 – 10 mm. Batang-batang yang diperlukan untuk finner ini sebaiknya yang hatinya terletak di tengah-tengah.

c. Menggolongkan kayu lapis berdasarkan mutunya
· Hard Board
- medium hard board : BJ 0,4 – 0,8 ; tebal 4,8 – 12,7 mm
- standard hard board : BJ 0,44 ; tebal 2;3;3,2;4,8 dan 6,4 mm
- super oroil-tempered hard board : BJ diatas 0,44
· Soft Board
- insulation board ; BJ kurang dari 0,4; tebal lebih besar 12 mm
- wall board ; BJ kurang 0,48 ; tebal 8 – 10,5 mm
- aquatic tile
kuat rekat :
(1) Jenis I : adalah kayu lapis yang mempunyai kuat rekat yang tahan terhadap pengaruh air dan cuaca
(2) Jenis II : adalah kayu lapis yang mempunyai kuat rekat yang tahan terhadap pengaruh kelembapan udara
kelas vinir
ukuran; lebar x panjang : 91,5 x 213,5 cm dan 122,0 x 244,0 cm
Tebal kayu lapis
Jumlah kayu lapis
4 dan 6
12 dan 15
18 dan 25
3
6
7
· Toleransi ukuran dan siku
- panjang atau lebar + 3 mm
- tebal : <> 6,0 mm + 3 %
- siku : selisih antara panjang dua diagonal tidak melebihi 0,25 % dari panjang diagonal pendek
· Kadar air maksimum adalah 14 %
Bagian 4
Logam

B. Bahan Bangunan dari Logam
1. Pengertian
Adalah suatu bahan bangunan yang bahan dasarnya dari besi (Fe) atau sejenisnya yang memiliki keteguhan tertentu, yang hakikatnya seperti kekerasan keliatannya, sebagian besar tambahan lainnya sehingga dapat meningkatkan kualitas dari logam tersebut, terutama adalah muutu dan ketahanan dari logam terhadap pengaruh bahan-bahan yang lain.
2. Jenis-jenis Bahan Bangunan Logam
· Besi Beton
· Baja Bangunan
3. Bahan Dasar dari Logam Ferro dan Non-Ferro
g. Logam ferro bahan dasarnya adalah :
· Bijih besi presentase besinya haruslah sebesar mungkin. Besi itu adalah berupa oksid-oksid besi Fe O dan Fe O atau karbonat besi (FeCO ) yang dinamakan batu besi spat
· Kokas sebagai bahan dasarnya dibuat dari batu bara dengan jalan menyuling kering batu bara itu dalam perusahaan kokas. Bagian-bagian yang terdiri dari gas, ter dan air dikeluarkan dari batu bara oleh suautu proses pemanasan, yang tinggal adalah terutama zat asam dan abu inilah yang dinamakan kokas
· Bahan-bahan tambah gunanya untuk mempersatukan abu kokas dan batu ikutan yang asam (SiO) hingga menjadi terak,yang dengan mudah dapat dipisahkan dari besi mentah yang menjadi cair. Sebagai bahan tambahan dipakai batu kapur (CaCO )
h. Logam non ferro bahan dasarnya adalah :
· Alumunium bahan dasarnya adalah :
- bauksit atau (Al O ) H O berupa tanah liat
- batu manikam atau Al O
- kryolit atau Na AlF
- lebrador
· Tembaga bahan dasarnya adalah : bijih seng yang terdiri dari :
- sulfat tembaga dengan 34 % Cu
- tembaga belerang
- bijih tembaga merah
· Seng bahan dasarnya adalah bijih seng yang terdiri dari sulfit seng (ZnS) dan oksid (ZnO)
· Timah Putih (stannum) bahan dasarnya adalah zinnstein (SnO ) atau cassitent
4. Proses Pembuatan Logam Ferro
Besi dan Baja, bijih-bijih besi didatangkan dari tambang bijih dalam berbagai mutu dan dalam bongkahan yang tak sama besar bercampur dengan batu-batu ikutan. Bijih tersebut dipecah oleh mesin
5. Klasifikasi Bahan Bangunan dari Logam ferro dan Logam Non-Ferro berdasarkan syarat mutunya
C. Baja sebagai Bahan Bangunan

Bagian 5
Batuan

A. Batu Alam
2. Proses Pembentukan Batuan
a) Batuan Beku
Berasal dari lava gunung berapi berupa cairan panas terkena proses pendinginan alamiah, maka lambat laun menjadi beku, pada saat itu mineral-mineral yang terkendung di dalamnya berkesempatan membentuk kristal-kristal, contohnya dapat ditemukan pada batuan, granit, syenit diotit, dan gabro
b) Batuan Sedimen
Proses pembentukannya dari pelapukan dan hancuran bebatuan yang dibawa aliran sungai kemudian mengendap di dasar perairan
c) Batuan Metamorfosis
Proses terjadinya yaitu struktur kristal yang membentukbatuan beku berubah oleh kristalilasi
3. Klasifikasi Jenis batuan
a) Batuan beku/primer/vulkanik/gunung api terbentuk dari intrusi magma seperti granit, syenit, diorit, gabro, labradorit
b) Batuan efusi tua dan muda terdiri dari porfirit, diabas, trakhid, andesit, basalt, fragmental, abu vulkanik, pasir vulkanik, tuf vulkanik, lava tuf, dan batu apung
c) Batuan sedimen/endapan
· Batuan Pragmental ;
- butir-butir lepas (pasir dan kerikil)
- batuan lekatan (pasir silika, pasir kapur, pasir lempung, dan pasir sungai)
- pasir silika
· Asal Hancuran Kimiawi; magnisit, dolomit, gipsum, anhidrit
· Asal Organo genik; batu kapur, batu napal, batu kapur berpori dan diatomit
· Batuan metamorfosa; genis, lempung, marmer/pualam, kwarsa
4. Batu alam sebagai bahan bangunan
Terbagai atas :
a) Batu Kali, jenis batu yang sering terdapat di dasar kali berasal dari pecahan batu besar dari gunung api kemudian terbawa erosi sungai
b) Batu Gunung, jenis batu yang sering ditemui di daerah pegunungan terdapat dalam gundukan tanah
c) Batu Muka alias batu hias, jenis batu alam yang dipakai untuk pasangan luar sebagai hiasan bukan untuk mendukung beban
5. Batuan alam sebagai agregat beton (pasir dan kerikil)
a) Pasir, jika pasir dipergunakan sebagai campuran beton maka harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Pasir tidak boleh tercampur dengan bahan-bahan organik, tanah liat maupun tanah napal
- Pasir tidak boleh mengnadung kersik-belerang, yang dikenal dengan warna emas mengkilap
- Pemakaian pasir laut jika setelah dicuci bersih dari unsur garamnya
- Pasir yang baik untuk pekerjaan beton adalah pasir kuarsa, etapi tidak selalu harus demikian, yang dianjurkan adalah pemakaian pasir berupa butir-butir yang berlainan memiliki berat jenis yang tinggi
b) Kerikil
Sebagai bahan pengisi adukan beton segar dapat dipakai kerikil atau batu pecah/kricak, syaratnya bahan-bahan ini harus mempunyai keteguhan yang sekurang-kurangnya sama dengan adukan betonnya setelah mengeras
6. Syarat Mutu Batu alam sebagai Bahan bangunan
a. Persyaratan Pasir sebagai Bahan Konstruksi
1) Pasir beton harus bersih. Bila diuji memakai larutan pencuci khusus, tinggi endapan pasir yang kelihatan dibandingkan dengan tinggi seluruh endapan pasir tidak kurang dari 70 %
2) Kandungan bagian yang lewat ayakan 0,063 mm tidak lebih dari 5 % berat (kadar lumpur)
3) Angka kehalusan fineses modulus terletak antara 2,2 – 3,2 bila diuji memakai rangkaian ayakan dengan 1,25;2,5;5;10 mm dengan fraksi yang lewat ayakan 0,3 mm minimal 15 %.
4) Pasir tidak boleh mengandung zat-zat organik yang dapat mengurangi beton
b. Persyaratan Kerikil sebagai Bahan konstruksi
1) Kekerasan yang ditentukan dengan bejana rudellof tidak boleh mengandung bagian hancur yang temus ayakan 2 mm, lebih dari 50 % berat
2) Kadar lumpur maksimum 1% berat
3) Bagian butir yang panjang dan pipih, maksimum 20 % berat, terutama untuk betom mutu tinggi

B. Keramik
1. Jenis-jenis bahan bangunan keramik
· Bata merah pejal
· Genting Keramik
· Ubin Keramik untuk Lantai
· Alat-alata Saniter
2. Sifat-sifat dan fungsi bahan bangunan keramik
Sifat bahan bangunan keramik, yaitu mempunyai bentuk dan ukuran yang hampir sama satu sama lain, mudah dalam pemasangannya, mempunyai yang merata serta kekerasannya cukup baik, bisa dilihat dalam berbagai macam warna dan bentuk, proses pembuatannya menggunakan teknologi modern
3. Mengenal bahan dasar keramik
Bahan dasar keramik yaitu tanah liat dengan atau tanpa campuran lainnya yang dibakar pada suhu yang cukup tinggi sehingga tidak hancur lagi bila direndam dalam air.
4. Proses pembuatan keramik
a. bata merah pejal, proses pembuatannya dari penggalian tanahnya, pencampuran dengan air dan bahan-bahan lain dilakukan seluruhnya dengan tangan, dengan cetakan kayu atau pada proses mempergunakan mesin. Dalam cara yang terakhir dapat dipakai :
· cara palstis, dimana ditambahkan banyak air
· cara setengah palstis
· cara setengah kering, dipergunakan mesin press yang berat bagi pembentukannya
b. Genting keramik, proses pembuatannya dari mulai penggalian tanah dan jika berikut pencampurannya dengan air atau bahan-bahan lain samai proses pembentukannya, dapat dikerjakan tenaga mekanis dengan memakai mesin. Untuk pembakarannya bisa digunakan dapur ladang atau dapur tetap.
c. Ubin keramik untuk lantai, proses pembuatannya yaitu, bahan baku keramik tunggal atau campurannya dibakar pada suhu tinggi, mempunyai tebal nominal antara 0,7 – 2 cm. Berpermukaan keras, rata dan bertekstur, berglasir atau tidak
2. Klasifikasi dan syarat bahan bangunan keramik
a. Bata Merah Pejal
- Bentuk standar bata merah adalah prisma segi empat panjang, bersudut siku-siku dan tajam, permukaan rata, dan tidak retak-retak
- Mempunyai ukuran standar sesuai dengan ketentuan persyaratan umum Bahan Bangunan Indonesia 1982
- Mempunyai kekuatan tekan ( tk) sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan pada PUBI-1982
- Tidak boleh mengandung garam
b. Genting Keramik
- Ketetapan ukuran harus sesuai dengan PUBI – 1982
- Pandangan luar, ketetapan bentuk dan kekuatan terhadap beban lentur harus sesuai pada PUBI-1982
- Ketahanan terhadap perembesan air pada pengujian perembesan air, air tidak boleh menetes dari bagian genting dalam waktu 2 jam
c. Ubin Keramik untuk lantai
- Porselen, jenis bahan keramik yang padat, putih atau berwarna, tembus cahaya jika tipis, terbuat dari bahan keramik tunggal atau campuran kaolin, kuarsa, feldsparan dan tanah liat plastis dengan atau tanpa campuran bahan lainnya
- Stoneware, jenis badan keramik yang hampir padat, tidak tembus cahaya, lebih gelap dari porselen, berwarna cerah, dibuat dari bahan baku keramik tunggal ataupun campuran
- Gerabah Keras, jenis bahan keramik yang berpori, keras, tidak tembus cahaya dan dibuat dari bahan baku keramik tunggal atau campuran
3. Syarat ubin keramik untuk lantai
· Tampak permukaan
· Ukuran dan toleransi penyimpangan
· Penyerapan air
· Kesikuan
· Kelurusan sisi
· Kedataran
· Perubahan bentuk karena puntiran
· Ketahanan terhadap gesekan
· Kuat lentur
· Ketahanan terhadap asam dan basa
· Kekerasan
· Ketahanan glasir terhadap retak-retak
· Semuanya mesti memenuhi standar PUBI-1982
Alat-alat saniter persyaratannya adalah harus mempunyai ukuran yang tepat, kedataran yang betul-betul rata dan mudah dalam pemasangannya serta memenuhi syarat PUBI-1982.

Bagian 5
Kaca dan Plastik
A. Kaca
B. Plastik

Bagian
Aspal, Bahan Perekat & Bahan Finishing

A. Aspal

B. Bahan Perekat

C. Bahan Finishing

Bagian 7
Bahan Pasangan Tembok & Penutup Atap

A. Bahan Pasangan Tembok

B. Penutup Atap
Bagian 8
Adukan

Pengertian adukan adalah campuran dari bahan pengikat dengan pasir atau tanpa pozollan ditambah air sehingga membentuk suatu massa pozolan ditambah air dan berfungsi sebagai perekat pada suatu pasangan bata dan sejenisnya.
A. Jenis adukan :
Adukan /perekat kapur ( kapur + pasir )
Perekat tras terdiri dari :
· Perekat tras keras ( kapur + tras )
· Perekat barter tras keras ( kapur + tras + pasir )
Perekat PC terdiri dari PC + pasir
Perekat PC Kapur, terdiri dari PC + tras + pasir
Perekat tras PC terdiri dari PC + tras + pasir
Perekat semen merah, terdiri dari kapur + semen merah + pasir
Perekat lempung, terdiri dari lempung + pasir kersik + tumbuhan-tumbuhan
Menurut keperluan dan pemakaiannya, perekat terbagi dalam :
1. Perekat kedap air
2. Perekat yang besar keteguhannya
3. Perekat untuk pondasi dan tembok atas
4. Perekat untuk plesteran
5. Perekat untuk plesteran siar dan untuk pasangan genting wuwung (bubungan)
6. Perekat untuk memasang ubin
B. Komposisi Bahan Adukan
Perekat kedap air
Untuk mendapatkan perekat kedap air dipergunakan pasir dan PC atau tras dengan perandingan 1 pasir : 1,5 – 2 PC atau tras, bisa juga campuran antara kapur dengan tras. Untuk mengetahui kedap air atau tidaknya sesuatu perekat harus ditentukan benda pada beberapa ruangan udara dalam 1 dm3 dan banyaknya air yang diperoleh untuk mendapatkan campuran tersebut.
Dari suatu pemeriksaan didapat hasil-hasil seperti berikut di bawah ini :

1 comment:

  1. Sangat membantu saya dalam tugas bahan bangunan I
    saya Mahasiswa Fak. Teknik Arsitektur
    Maksih banyak yaaaaaaaaaaah .....^_^

    ReplyDelete

About Us